Sejatinya kebahagiaan dalam pernikahan adalah dambaan setiap
pasangan. Namun untuk mencapainya, tidak semua orang bersedia menerima bila
sebuah hubungan merupakan cerminan kualitas dan keyakinan diri sendiri.
Bila kita sendiri tidak memiliki harapan untuk
bahagia, bagaimana mungkin kita mampu mewujudkan pernikahan harmonis? Penting
bagi kita untuk menyadari bahwa perjalanan pernikahan adalah cerminan pribadi
diri. Kuncinya adalah fokus pada hubungan hubungan dengan diri sendiri.
Penerimaan diri
Tidak ada manusia yang sempurna, oleh sebab itu
setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Setiap kita perlu menerima diri
sendiri, tentang siapa ‘saya’. Hal ini bukan berarti egois, namun yakin dengan
diri Anda, terlepas dari penampilan fisik, kebiasan buruk, pengalaman masa
lalu, dan lainnya.
Bila kita tidak bisa memiliki hubungan yang
indah dengan diri sendiri, bagaimana mungkin kita mampu mewujudkan keharmonisan
dalam pernikahan? Ketahuilah bahwa setiap kita bertanggung jawab atas
kebahagiaan diri sendiri. Berhenti menyalahkan orang lain sebagai penyebab
ketidakbahagiaan. Sebaiknya lihat lagi ke dalam diri sendiri.
Fokus pada perasaan
Perasaan Anda adalah hasil dari bagaimana Anda
menentukan pilihan untuk menerima perlakuan dan perkataan orang lain, kebutuhan
khusus tertentu, serta harapan. Marshall Rosenberg, pencipta dari 'Nonviolent
Communication' mengungkapkan, ‘perkataan orang lain adalah stimulus, bukannya
penyebab perasaan Anda.’
Bila kita sedang marah kepada seseorang,
sebaiknya fokuskan perhatian pada perasaan diri sendiri dan kebutuhan saat itu
juga. Cara lainnya adalah dengan mengenali kemarahan dan kesedihan, penerimaan,
atau pemahaman. Sebab saat perasaan dan kebutuhan diakui, maka pemahaman akan
mengikuti, bahkan perasaan damai yang melingkupi kita.
Mungkin kita baru saja mendengar kalimat ini,
“Kamu adalah orang yang paling sensitif yang pernah saya temui.” Anda tentu
memiliki kebebasan untuk bereaksi, yakni dengan kembali membalasnya, memikirkan
perkataannya “Ya, saya agak sensitif’, atau mengabaikan perkataannya dan
membiarkan kemarahan meledak dalam diri. Anda pilih yang mana?
Damai
Cara paling baik untuk berdamai adalah dengan
melihat kembali dalam diri sendiri. Kesadaran inilah yang mengaktifkan
perdamaian dalam diri dan bergerak menuju penguasaan diri.
Di atas semua itu, libatkan hubungan yang
paling indah dengan Tuhan dalam kehidupan pernikahan Anda dan pasangan. Dia
akan menunjukan kepada Anda bagaimana meningkatkan hubungan pernikahan. Sebab
Tuhan Yesus Kristus merupakan kunci utama menuju pernikahan yang
harmonis.
Sumber : Metrotvnews/Jawaban.com by tk
0 ulasan:
Catat Ulasan