LGBT (Lesbian,
Gay, Bisexual and Transgender) menjadi sorotan media dan publik belakangan
ini. Apalagi setelah Mahmakah Agung Amerika telah memutuskan pengakuan akan hak
konstitusional kaum LGBT Amerika. Akibatnya, Indonesia sebagai negara yang
begitu menantang penyimpangan cara hidup ini turut resah bila kondisi tersebut
akan berdampak besar bagi kehidupan warganya.
Keresahan ini juga tentunya akan dialami oleh para orang tua
yang mempunyai anak-anak remaja dan dewasa. Dengan faktor lingkungan dan
pergaulan, LGBT yang dikenal sebagai salah satu jenis kelainan seksual dan
psikologis ini dinilai rentan mempengaruhi anak-anak muda saat ini. Hubungan
lelaki dengan lelaki disebut sebagai gay, sementara antara perempuan dengan
perempuan disebut sebagai lesbian.
Memang, jika pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak
kanak-kanak sampai usia remaja tidak diperhatikan dengan baik, setiap orang
mempunyai kecenderungan kelainan seksual.
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab baik dari lingkungan keluarga,
masyarakat, maupun lingkungan eksternal seperti bacaan dan tontonan yang melulu
bermotif porno dan tidak memiliki unsur edukasi seks.
Disadari atau tidak, pola hubungan dalam keluarga mempengaruhi perilaku
seksual pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sampai usia remaja, bahkan
sampai ke usia dewasa. Anak pada masa pertumbuhannya seringkali menirukan
tingkah laku orang dewasa di dalam sebuah keluarga.
Sebuah penelitian telah menyimpulkan anak yang tumbuh menjadi
remaja yang menderita LGBT disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:
1. Memiliki ayah yang dingin. Ayah secara fisik dan kejiwaan
biasanya kaku dalam mengungkapkan perasaannya. Jarang terlibat dalam kehidupan
anaknya.
2. Memiliki ibu yang terlalu besar pengaruhnya dalam keluarga.
Dalam keseharian terlalu dominan dalam keluarga dan bahkan pengambilan segala
keputusan dilakukan oleh sang ibu.
3. lbu sering tidur dengan anak laki-lakinya dan mengabaikan
sang ayah.
4. lbu atau kakak parempuan tidak malu-malu mengganti pakaian
atau membuka baju di depan anak atau adiknya. Mereka menganggap anak laki-laki
seperti anak perempuan.
5. Baik ayah atau ibu jarang mendorong anak laki-lakinya untuk
melakukan kegiatan kelaki-lakian atau sikap kelaki-lakian dalam diri anak.
Demikian sebaliknya untuk anak perempuan.
6. Bagaimana perasaan ayah atau ibu terhadap jenis kelaminnya
sendiri akan mempengaruhi identitas seksual anak. Misalnya jika ibu merasa
bangga menjadi wanita, maka sikap dan perilaku ini akan ditiru anak
perempuannya.
7. Perlakuan dan sikap masing-masing orang tua pada jenis
kelamin anak. Misalnya ada ayah yang lebih sayang pada anak perempuannya dan
keras pada anak laki-lakinya. Remaja akan menangkap kesan bahwa jenis kelamin
wanita lebih disukai di rumah ini dibanding laki-laki. Hal ini membuat anak
akan berpikir ingin menjadi anak perempuan supaya disayang ayah.
Pola hubungan keluarga sangat berpengaruh dalam perilaku seksual
anak. Berbagai aktivitas orang dewasa dalam satu rumah memberi dampak
perkembangan seksual mereka. Siapa pun tentu tidak ingin anaknya tumbuh dan
berkembang tidak normal, baik dari sisi fisik, kecerdasan, tingkah laku, moral,
seksual dan berbagai sisi lainnya.
Dari sisi seksualitas, hubungan harmonis, kasih sayang dalam
keluarga dan perilaku yang memperhatikan pembedaan jenis kelamin sangat baik
dikembangkan untuk anak agar tidak mengalami kelainan seksual.
Perlu diperhatikan perkembangan anak dalam tingkah laku seksual
mereka. Jika mereka menampakkan tingkah dan perilaku seperti di bawah ini perlu
mendapat perhatian serius, seperti misalnya:
1. Anak atau anak remaja lebih senang bergaul dengan
anak-anak berjenis kelamin yang sama yang usianya lebih muda.
2. Anak takut berbicara dengan lawan jenisnya.
3. Sebagian besar remaja pria senang memakai anting pada
satu telinga atau pada kedua telinganya.
4. Memakai pakaian yang feminin dan kurang menyukai
kegiatan-kegiatan kelelaki-lakian.
5. Anak atau remaja putri berpakaian seperti atau menyenangi
kegiatan yang biasa dikerjakan laki-laki.
Oleh karena itu, jika mendapati gejala tingkah laku anak
laki-laki mengarah kepada kelainan seksual ini harus segera dilakukan perubahan
pola hubungan dalam keluarga, seperti misalnya:
1. Sang ayah lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki.
Namun, tidak mengurangi perhatian dan kasih sayang pada anak perempuan.
2. Memberikan dan melakukan kegiatan kelaki-lakian bagi
anak laki-laki. Ini bukan berarti anak-anak tidak boleh bermain dengan kegiatan
kewanitaan.
3. Membatasi pengaruh ibu dalam kegiatan sehari-hari pada
anak lelaki. Ingatkan pada ibu bahwa ibu tidak harus memonopoli pengambilan
keputusan dan kebijakan keluarga.
4. Berbicara secara terbuka dan terarah dengan anak-anak.
Orang tua harus mempersiapkan anak menghadapi masa depannya. Orang tua dan
orang dewasa lain harus kompak dan mau mendengar anak.
Pendekatan agama sangat berarti dalam pembentukan pola berpikir
dan berperilaku anak. Secara dini anak sudah ditanamkan nilai-nilai dasar
keagamaan. Ketika anak tumbuh ke remaja dan usia dewasa, nilai-nilai agama
tetap menjadi pegangannya.
Anda diberkati dengan artikel ini, yuk share artikel ini di
Facebook-mu dan ajak teman-temanmu untuk re-share link artikelnya. Semakin
banyak yang re-share, semakin keren hadiahnya. Keterangan lebih lanjut, KLIK DI SINI
Sumber : jawaban.com

0 ulasan:
Catat Ulasan